WARTADEMOKRASI.COM – Hubungan antara Iran dan bangsa Yahudi tidak selalu diwarnai ketegangan seperti yang terlihat dalam konflik Timur Tengah saat ini.
Jauh sebelum retorika permusuhan menguat setelah Revolusi Islam 1979, kedua pihak pernah menjalin hubungan yang relatif erat—bahkan dalam sejumlah periode dianggap sebagai aliansi strategis yang lahir dari kepentingan politik, ekonomi, dan sejarah panjang komunitas Yahudi di Iran.
Sejak berdirinya negara Israel pada 1948 hingga jatuhnya pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi pada 1979, Iran termasuk salah satu negara di kawasan yang memiliki hubungan pragmatis dengan Israel.
Meski hubungan diplomatik resmi tidak selalu ditampilkan secara terbuka, kerja sama di bidang perdagangan, keamanan, hingga intelijen berlangsung di balik layar.
Pada masa itu, Iran menjadi salah satu mitra penting Israel di kawasan yang mayoritas negara Arabnya menolak keberadaan negara Yahudi tersebut.
Jembatan penting yang menghubungkan kedua pihak adalah komunitas Yahudi Iran—salah satu komunitas Yahudi tertua di dunia.
Sejarah mereka di Persia telah berlangsung lebih dari dua milenium, sejak masa Kekaisaran Persia kuno.
Pada pertengahan abad ke-20, komunitas Yahudi Iran berkembang pesat secara sosial dan ekonomi.
Banyak dari mereka aktif dalam sektor perdagangan, industri, dan kehidupan budaya Iran modern.
Salah satu figur penting dalam sejarah ini adalah Habib Elghanian, seorang pengusaha Yahudi Iran yang dikenal luas pada era pemerintahan Shah.
Ia berperan besar dalam pengembangan industri plastik di Iran serta menjadi tokoh komunitas Yahudi yang berpengaruh.
Elghanian juga menjadi simbol hubungan relatif harmonis antara pemerintah Iran pra-revolusi dengan warganya yang beragama Yahudi.
Namun situasi berubah drastis setelah Revolusi Islam 1979 yang dipimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Pemerintahan baru Iran mengadopsi sikap ideologis yang keras terhadap Israel dan menyebut negara tersebut sebagai musuh utama.
Dalam perubahan politik yang cepat dan penuh ketegangan itu, Elghanian ditangkap dan kemudian dieksekusi dengan tuduhan memiliki hubungan dengan Israel serta melakukan kegiatan ekonomi yang dianggap merugikan negara.
Eksekusi Elghanian menjadi titik balik penting. Peristiwa itu tidak hanya mengguncang komunitas Yahudi Iran, tetapi juga menandai berakhirnya era hubungan relatif terbuka antara Iran dan Israel.
Banyak warga Yahudi Iran kemudian memilih meninggalkan negara tersebut dan bermigrasi ke Amerika Serikat, Israel, atau negara lain.
Meski demikian, komunitas Yahudi tidak sepenuhnya hilang dari Iran.
Hingga kini, Iran masih memiliki populasi Yahudi terbesar di Timur Tengah di luar Israel.
Mereka memiliki perwakilan di parlemen Iran dan tetap menjalankan kehidupan keagamaan mereka, meski dalam situasi politik yang sensitif.
Kisah hubungan Iran dan bangsa Yahudi menunjukkan bahwa dinamika geopolitik tidak selalu statis.
Apa yang kini tampak sebagai konflik yang tak terhindarkan pernah memiliki bab lain dalam sejarah—sebuah periode ketika kerja sama, bukan permusuhan, menjadi wajah hubungan kedua pihak.
Sejarah itu menjadi pengingat bahwa realitas politik Timur Tengah sering kali lebih kompleks daripada narasi konflik yang terlihat di permukaan.
Sumber: Herald