WARTADEMOKRASI.COM – Sejumlah negara Eropa tidak akan mengerahkan kapal perang ke Selat Hormuz, meski Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta sekutu Barat membantu membuka jalur pelayaran strategis tersebut.
Permintaan Trump muncul setelah Selat Hormuz praktis tertutup akibat perang AS-Israel melawan Iran sejak 28 Februari 2026.
Penutupan jalur tersebut memicu gangguan besar pada pasar energi global karena sekitar seperlima pengiriman minyak dunia melewati selat sempit di Teluk itu.
Namun, sejumlah negara Eropa menegaskan tidak akan terlibat operasi militer di kawasan itu, meskipun sebagian menyatakan tetap terbuka untuk langkah diplomatik atau diskusi keamanan lainnya.
Dilansir dari Al Jazeera pada Senin (16/3/2026), berikut adalah negara-negara Eropa yang menolak mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.
Jerman menjadi salah satu negara paling tegas yang menolak terlibat operasi militer di Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul mengatakan, Berlin membutuhkan kejelasan lebih lanjut mengenai tujuan operasi yang diusulkan AS dan Israel.
“Kita membutuhkan kejelasan lebih lanjut di sini,” kata Wadephul kepada wartawan sebelum pertemuan menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels.
“Kami berharap AS dan Israel memberi tahu kami, melibatkan kami dalam apa yang mereka lakukan di sana dan memberi tahu kami apakah tujuan-tujuan ini tercapai.”
Wadephul juga mengemukakan, Eropa perlu lebih dulu memahami situasi sebelum merumuskan arsitektur keamanan baru di kawasan tersebut bersama negara-negara tetangga.
“Setelah kita memiliki gambaran yang jelas tentang hal itu, kami percaya kita perlu beralih ke fase berikutnya, yaitu, mendefinisikan arsitektur keamanan untuk seluruh wilayah ini, bersama dengan negara-negara tetangga,” katanya.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menegaskan, negaranya tidak akan mengirim kapal atau pasukan militer ke Selat Hormuz.
“Ini bukan perang kita. Kita tidak memulainya,” kata Pistorius.
“Apa yang diharapkan Trump dari segelintir atau dua gelintir fregat Eropa di Selat Hormuz yang tak dapat dilakukan Angkatan Laut AS yang kuat?” lanjutnya.
“Negeri Raja Charles” juga menolak kemungkinan bergabung dalam operasi militer untuk membuka Selat Hormuz.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan, misi di kawasan tersebut bukan dan tidak pernah direncanakan sebagai operasi NATO.
“Izinkan saya memperjelas: itu tidak akan, dan tidak pernah direncanakan untuk menjadi, misi NATO,” kata Starmer dari London.
Ia menegaskan bahwa Inggris tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas di Timur Tengah.
Namun, Starmer menyatakan bahwa Pemerintah Inggris tetap berdiskusi dengan AS serta sekutu di Eropa dan Teluk mengenai opsi lain, termasuk penggunaan drone pemburu ranjau yang sudah berada di wilayah tersebut.
Yunani juga menegaskan tidak akan ikut operasi militer di Selat Hormuz.
Juru bicara Pemerintah Yunani Pavlos Marinakis mengatakan, Athena tidak berencana mengirim pasukan atau kapal perang ke kawasan tersebut.
Pernyataan tersebut menegaskan posisi Yunani yang tidak ingin terlibat langsung dalam konflik militer di Timur Tengah.
Italia juga menyatakan, tidak terlibat rencana misi angkatan laut yang dapat diperluas ke Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani mengatakan, negaranya tidak ikut dalam operasi angkatan laut yang dapat mencakup kawasan tersebut.
Sikap itu menunjukkan Italia memilih menjaga jarak dari kemungkinan eskalasi militer di wilayah Teluk.
Belanda juga menyampaikan keraguan besar terhadap rencana operasi militer di Selat Hormuz.
Perdana Menteri Belanda Rob Jetten mengatakan, meluncurkan misi yang sukses di kawasan tersebut dalam waktu dekat akan sangat sulit.
Ia menyatakan kepada kantor berita ANP bahwa akan sangat sulit meluncurkan misi yang sukses di sana dalam jangka pendek”.
Paris turut menyatakan tidak akan mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz.
Kementerian Eropa dan Luar Negeri Perancis menyampaikan sikap negaranya tetap bersifat defensif.
“Sikap kami tidak berubah: tetap defensif,” kata kementerian tersebut dalam pernyataan resmi pada Sabtu (14/3/2026).
Secara umum, negara-negara Uni Eropa juga menunjukkan sikap enggan terlibat langsung dalam konflik ini.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengatakan, tidak ada keinginan dari negara-negara anggota untuk ikut aktif dalam perang.
“Tidak ada yang ingin terlibat aktif dalam perang ini,” kata Kallas setelah pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels.
Sebelumnya, Kallas sempat mengusulkan memperpanjang misi Aspides Uni Eropa sebagai cara tercepat meningkatkan keamanan pelayaran.
Akan tetapi setelah pembahasan, negara-negara anggota tidak menunjukkan dukungan untuk memperpanjang misi tersebut.
Misi Aspides sendiri dibentuk pada 2024 untuk melindungi kapal dari serangan kelompok Houthi di Laut Merah.
Di Washington, Trump mengkritik negara-negara sekutu yang dinilai tidak cukup antusias membantu membuka Selat Hormuz.
“Beberapa sangat antusias tentang hal itu, dan beberapa tidak,” kata Trump dalam acara di Gedung Putih.
“Beberapa adalah negara yang kami bantu selama bertahun-tahun. Kami telah melindungi mereka dari sumber luar yang mengerikan, dan mereka tidak begitu antusias. Dan tingkat antusiasme itu penting bagi saya,” lanjutnya.
Trump juga mengatakan, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio akan mengumumkan negara-negara yang bersedia membantu operasi tersebut.
Presiden ke-47 AS itu bahkan memperingatkan bahwa NATO menghadapi masa depan sangat buruk jika rencana operasi militer di Selat Hormuz tidak mendapat tanggapan dari sekutu.
Sumber: Kompas