Bikin Dedi Mulyadi Geram! Ini 3 Pernyataan Penjual Es Gabus yang Tak Sesuai Fakta

WARTADEMOKRASI.COM – Kasus penjual es gabus Ajat Suderajat tak berhenti pada viralnya tudingan menjual es berbahan spons.

Saat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turun langsung dmenemuinya, muncul fakta-fakta baru yang justru menggeser fokus persoalan.

Dalam pertemuan tersebut, Dedi secara terbuka mengoreksi sejumlah pernyataan Ajat yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

Koreksi ini disampaikan langsung di hadapan Ajat dan Ketua RW, sekaligus menjadi penjelasan mengapa Dedi memilih mengatur langsung penyaluran bantuan.

Berikut tiga pernyataan Ajat Suderajat yang diduga berbohong

1. Status Sekolah Anak yang Disebut Negeri, Ternyata Swasta

Ajat Suderajat sebelumnya menyatakan bahwa anaknya bersekolah di SD negeri. Namun, saat dilakukan penelusuran, Dedi menemukan fakta berbeda.

Menurut Dedi, anak Ajat ternyata mengenyam pendidikan di sekolah swasta. Hal tersebut disampaikan Dedi setelah mencocokkan informasi dengan Ketua RW setempat.

“Anaknya yang SD swasta, kata babe kemaren sekolahnya negeri. Ini (yang bener) sekolahnya swasta,” ujar Dedi Mulyadi, dikutip dari kanal YouTube pribadinya, Jumat, 30 Januari 2026.

Meski begitu, Dedi menegaskan bahwa pendidikan dasar seharusnya tetap gratis, baik di sekolah negeri maupun swasta, merujuk pada putusan Mahkamah Konstitusi.

Ia pun menyatakan akan menindaklanjuti ke Pemerintah Kabupaten Bogor jika masih ditemukan pungutan biaya sekolah untuk jenjang SD dan SMP.

2. Pengakuan Mengontrak Rumah, Padahal Punya Sendiri

Pernyataan lain yang dikoreksi adalah soal status tempat tinggal. Ajat sebelumnya mengaku telah lama mengontrak rumah.

Namun, keterangan tersebut dibantah langsung oleh Ketua RW setempat.

“Sebenarnya orang tuanya beliin rumah tahun 2007. Setelah dibelikan, dia tinggal bersama istrinya dan ketiga anaknya saat itu,” ujar Ketua RW.

Mendengar penjelasan tersebut, Dedi Mulyadi langsung menegur Ajat karena dianggap tidak jujur dalam menyampaikan kondisi sebenarnya.

“Babe bilangnya ngontrak, bohong sih. Kenapa sih be bohong terus,” kata Dedi.

Ajat pun mengakui kekeliruannya dan menyampaikan permintaan maaf secara langsung.

3. Klaim Warisan Rp 200 Ribu yang Tak Sesuai Fakta

Selain soal pendidikan dan rumah, Dedi juga menyorot pernyataan Ajat terkait warisan dari orang tuanya.

Ajat sebelumnya mengaku hanya menerima warisan sebesar Rp 200 ribu.

Namun, Dedi menilai pernyataan tersebut tidak sesuai dengan fakta bahwa orang tua Ajat telah membelikan rumah sejak 2007.

“Babe ngebohong. Dia bilangnya saya dikasih warisan cuma Rp 200 ribu padahal dikasih rumah tahun 2007,” ujar Dedi.

Dalam kesempatan itu, Dedi menekankan pentingnya kejujuran sebagai fondasi agar kehidupan bisa berjalan lebih baik ke depannya.

Meski demikian, Dedi tetap memberikan dukungan konkret dengan menambahkan dana renovasi rumah Ajat yang masuk program Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni).

Dana tersebut dititipkan kepada Ketua RW untuk memastikan penggunaannya sesuai kebutuhan.

Mengapa Dedi Mengatur Bantuan Secara Langsung

Sebelumnya, Dedi Mulyadi sempat memberikan uang tunai kepada Ajat saat pertemuan awal. Namun, ia kemudian menarik kembali sebagian dana tersebut karena khawatir tidak digunakan sesuai peruntukan.

Dalam percakapan yang terekam, Dedi bahkan mengoreksi jumlah tunggakan sekolah yang disebut Ajat, karena dinilai tidak masuk akal untuk biaya SD negeri.

“Enggak mungkin sekolah SD bayar Rp 200 ribu. Enggak mungkin pak. Nanti saya cek sekolahnya,” kata Dedi.

Karena adanya perbedaan keterangan, Dedi memilih membayar langsung kebutuhan utama Ajat, serta menyerahkan modal usaha sebesar Rp 5 juta untuk kebutuhan dagang.

Sumber: VIVA

Kamu mungkin suka