WARTADEMOKRASI.COM – Selama bertahun-tahun, siklus empat tahunan Bitcoin menjadi acuan utama para pelaku pasar kripto.
Siklus ini erat kaitannya dengan peristiwa halving, yaitu pemangkasan imbalan penambangan Bitcoin yang terjadi setiap sekitar 210 ribu blok.
Dikutip dari Coinmarketcap, Jumat (16/1/2026), setiap halving secara historis memicu guncangan pasokan (supply shock) yang kerap diikuti reli harga besar, lalu diakhiri fase koreksi atau pasar bearish.
Namun, dinamika pasar terbaru memunculkan pertanyaan besar: apakah siklus empat tahunan Bitcoin masih relevan?
Sejumlah analis menilai pengaruh halving terhadap pergerakan harga Bitcoin semakin melemah.
Pada masa awal kemunculannya, suplai Bitcoin yang masih tinggi membuat setiap pemangkasan imbalan penambangan berdampak signifikan terhadap pasar.
Kini situasinya berbeda. Setelah halving April 2024, tingkat penerbitan Bitcoin per tahun turun menjadi di bawah 1%.
Artinya, guncangan pasokan yang tercipta jauh lebih kecil dibandingkan siklus-siklus sebelumnya.
Dampaknya, kekuatan reli Bitcoin dalam setiap siklus juga terlihat menurun.
Puncak harga pada 2013, 2017, 2021, hingga 2025 tercatat semakin kecil jika dibandingkan dengan lonjakan di siklus sebelumnya.
Menariknya, pada halving terakhir, Bitcoin justru mencetak rekor harga tertinggi sepanjang masa (all-time high) sebelum peristiwa tersebut terjadi, bukan beberapa bulan setelahnya seperti pola klasik yang selama ini dikenal.
Perubahan ini juga dipengaruhi oleh derasnya masuk dana institusi ke pasar Bitcoin. Kehadiran produk exchange-traded fund (ETF) Bitcoin, khususnya di Amerika Serikat, telah mengubah lanskap pasar secara signifikan.
Saat ini, ETF Bitcoin disebut menyumbang sekitar 25% dari volume perdagangan spot.
Salah satu yang terbesar, iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock, bahkan tercatat mengelola lebih dari USD 90 miliar dalam bentuk Bitcoin.
Skala likuiditas ini jauh melampaui dominasi investor ritel pada era awal Bitcoin.
Masuknya dana institusi membuat pergerakan harga Bitcoin semakin dipengaruhi faktor makroekonomi, seperti suku bunga, sentimen risiko global, hingga arus dana ETF.
Bitcoin pun mulai berperilaku layaknya aset keuangan mapan, bukan sekadar instrumen spekulatif berbasis kelangkaan.
Jika sebelumnya siklus empat tahunan menjadi “kalender” bagi investor ritel untuk membaca fase bullish dan bearish, kini pola tersebut dinilai semakin sulit diandalkan.
Banyak pengamat menyebut Bitcoin mulai bergerak seperti emas digital, dengan pertumbuhan harga yang lebih stabil dan selaras dengan pasar keuangan global.
Bagi investor, fokus pun mulai bergeser. Likuiditas global, arus dana institusi, dan sentimen makro kini dinilai lebih penting dibanding sekadar menghitung waktu halving.
Meski halving tetap memengaruhi ekonomi penambang, perannya sebagai pemicu pergerakan harga jangka pendek semakin berkurang.
Kesimpulannya, era siklus empat tahunan Bitcoin yang mudah diprediksi dinilai mulai memudar. Dominasi dana institusi, ETF, dan faktor makroekonomi kini mengalahkan efek kelangkaan tradisional.
Bitcoin sedang memasuki fase baru—bergerak bukan lagi sebagai eksperimen spekulatif, melainkan sebagai aset makro yang digerakkan oleh likuiditas.
Bagi investor yang mampu beradaptasi, perubahan ini justru bisa menghadirkan peluang pertumbuhan yang lebih stabil dalam jangka panjang.
Sumber: Liputan6