Ali Khamenei Pernah Selamat dari Percobaan Pembunuhan 1981, Tangan Kanannya Lumpuh

WARTADEMOKRASI.COM – Suara azan dan revolusi membentuk hidupnya.

Ali Khamenei lahir pada 19 April 1939 dan tumbuh dalam tradisi ulama Syiah yang kuat.

Ia disebut sebagai keturunan ke-38 Nabi Muhammad SAW dari jalur Husaini—sebuah garis nasab yang memberinya legitimasi religius di tengah masyarakat Iran yang memuliakan ahlulbait.

Sejak muda, Khamenei memilih jalan seminari. Ia belajar di Masyhad, Najaf, dan Qom—tiga simpul penting pendidikan Syiah.

Di usia remaja, pertemuannya dengan Navvab Safavi, pendiri Fedaiyan Islam, menyalakan api politik dalam dirinya.

Percikan itu membesar ketika ia berjumpa dengan Ruhollah Khomeini. Semangat revolusi menuntunnya melawan Dinasti Pahlavi.

Ia ditangkap enam kali dan pernah diasingkan ke Iransyahr sebelum kembali ke Teheran pada puncak gelombang protes 1978.

Revolusi Iran mengubah nasibnya. Dari anggota Dewan Revolusi, Imam Salat Jumat Teheran, Wakil Menteri Pertahanan, hingga Presiden Iran dua periode, jalannya terus menanjak.

Namun Juni 1981 menjadi titik luka yang tak pernah sembuh sepenuhnya. Sebuah bom meledak dalam percobaan pembunuhan terhadapnya.

Ia selamat, tetapi lengan kanannya lumpuh permanen—sebuah tanda fisik dari kerasnya pergulatan politik era itu.

Pada 1989, setelah wafatnya Khomeini, Majelis Ahli memilihnya sebagai Pemimpin Tertinggi kedua Republik Islam Iran.

Berdasarkan Pasal 107 dan 110 Konstitusi Iran, posisi itu menempatkannya sebagai pejabat tertinggi negara sekaligus Panglima Angkatan Bersenjata.

Sejak saat itu, Khamenei menjadi pusat orbit kekuasaan: menentukan arah kebijakan luar negeri, militer, hingga strategi nuklir.

Di mata pendukungnya, ia adalah marja dan penjaga revolusi.

Di mata para pengkritiknya—baik di dalam maupun luar negeri—ia dituding sebagai simbol represi politik dan arsitek kebijakan regional Iran yang konfrontatif.

Majalah Forbes pernah menempatkannya dalam daftar orang paling berkuasa di dunia.

Empat dekade lebih ia memimpin di tengah sanksi, perang bayangan, dan tekanan internasional.

Hubungannya dengan Garda Revolusi menguat sejak Perang Iran–Irak pada 1980-an, membentuk fondasi militer-politik yang bertahan hingga generasi berikutnya.

Pada 28 Februari 2026, dentuman perang kembali menelan namanya.

Khamenei tewas dalam serangan Israel–Amerika Serikat ke Iran, dilaporkan saat berada di kantornya.

Sehari kemudian, media pemerintah mengonfirmasi kematiannya dan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Dari ruang kelas seminari hingga ruang komando negara, perjalanan Ali Khamenei adalah potret Iran modern—penuh keyakinan, perlawanan, kontroversi, dan kekuasaan.

Kini, setelah ia tiada, pertanyaan besar menggantung: ke mana arah Republik Islam tanpa figur yang selama puluhan tahun menjadi porosnya?

Sumber: Herald

Kamu mungkin suka