WARTADEMOKRASI.COM – Kondisi Bandara Inetrnasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Kabupaten Majalengka, dinilai membebani keuangan Pemprov Jabar.
Dengan dukungan anggaran hingga Rp 100 miliar per tahun, bandara tersebut dinilai tidak memberikan keuntungan.
Hal itu disampaikan Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM.
“Beban utang kita tinggi. Satu dana PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional), kedua membiayai Kertajati, kita ngebiayaain terus, hasilnya gak ada,” kata KDM dalam video di akun YouTubenya, dikutip Republika, Rabu (7/1/2026).
“Kita membiayai sesuatu yang tidak menghasilkan apa pun, gitu lho. Padahal lembaga bisnis itu, lembaga penerbangan bisnis,” tambah KDM, saat berbincang dengan sejumlah jajarannya.
KDM pun bertanya kepada Kepala Bappeda Jabar, Dedi Mulyadi, mengenai kemungkinan menghentikan pembiayaan Bandara Kertajati. “Pertanyaan saya bisa nggak sih, karena kita ngebiayain terus gak ada hasilnya Kertajati setop dulu deh? Ya kita harus jujur Pak,” ucap KDM.
Berdasarkan pantauan Republika, Rabu (7/1/2026) siang, suasana bandara terasa sepi tanpa adanya satupun aktivitas penerbangan. Suasana sepi sudah mulai terasa sejak memasuki area bandara.
Halaman depan yang berfungsi sebagai tempat parkir terlihat kosong tanpa ada satupun kendaraan.
Di tempat parkir itu hanya terlihat sejumlah rombongan warga yang berekreasi. Mereka menggelar tikar dan makan-makan dari bekal makanan yang sudah mereka siapkan.
Suasana sepi pun berlanjut di lobi bandara. Sejumlah gerai makanan terlihat tutup, hanya menyisakan satu minimarket yang masih buka.
Begitu pula saat memasuki ruangan dalam bandara di lantai dasar. Tidak ada satupun aktivitas yang berlangsung di sana.
Bahkan, semakin masuk ke dalam ruangan, suasana cukup gelap akibat minim penerangan.
Hanya toilet dan mushola yang memiliki penerangan cukup dan bisa digunakan oleh warga yang berwisata.
Dihubungi terpisah, Executive General Manager BIJB, Nuril Huda Mahmudan, enggan memberikan tanggapan terhadap pernyataan KDM.
“Kami tidak bisa memberikan komentar karena bagaimanapun Pemprov Jabar adalah pemegang saham terbesar BIJB,” terang Nuril kepada Republika.
Nuril pun hanya menjelaskan terkait operasional di BIJB.
Ia menyebutkan, saat ini penerbangan di Bandara Kertajati melayani rute Kertajati – Singapura oleh maskapai Scoot.
“Sampai saat ini (penerbangan) memang masih minim ya. Seminggu dua kali flight, itu Scoot, rutenya Kertajati – Singapura, setiap Selasa dan Sabtu,” terang Nuril kepada Republika, Rabu (7/1/2026).
Nuril menyebutkan, kapasitas pesawat Scoot mencapai 112 penumpang.
Saat libur Nataru kemarin, tingkat keterisian penumpang mencapai 90 – 100 persen. Sedangkan di hari biasa, tingkat keterisian penumpang di kisaran 70 – 80 persen.
Dengan minimnya penerbangan, Nuril mengatakan, pihaknya menerapkan operasi minimal. Maksudnya, mengerahkan personil dan fasilitas dalam batas minimal.
“Karena tidak banyak flight, jadi tidak semua kita operasikan. Kalau nanti setiap hari full, kita akan merubah status dari operasi minimal ke operasi full. Itu sudah kita bagi step-stepnya. Intinya, kita efisiensi. Kalau tidak ada penerbangan, ngapain kita full operation,” cetus Nuril.
Meski demikian, Nuril memastikan layanan tetap mengutamakan prinsip 3S 1C yang ada di bandara.
Yaitu, security, safety, service dan compliance. Ia juga menyatakan, semua fasilitas tetap dirawat secara baik dan kondisinya pun semua baik.
Selain rute Kertajati – Singapura yang kini sudah berjalan itu, lanjut Nuril, pihaknya juga berencana membuka penerbangan umroh berjadwal.
Dengan Garuda Indonesia sebagai maskapainya, rute penerbangan umroh itu akan dilakukan dari Kertajati langsung menuju Jedah.
Ia mengatakan, umroh berjadwal itu rencananya akan dilakukan setelah musim haji 2026 selesai, atau sekitar Juni atau Juli, hingga menjelang musim haji tahun depan.
“Alhamdulillah kemarin sudah ada titik terang, tapi titik terang itu hanya kesediaan maskapai untuk membuka secara berjadwal di Kertajati. Walaupun jadwalnya belum keluar, tapi rencananaya nanti setelah haji ada jadwal (penerbangan umroh) resmi selama satu musim, itu kan selama sepuluh bulan. Karena dua bulannya kan dipakai buat haji, gak bisa umroh,” tuturnya.
Nuril pun berharap ada dukungan dari Pemprov Jabar maupun Kementerian Haji dan Umroh, agar jamaah umroh dari wilayah Ciayumajakuning maupun daerah lainnya di Jabar bisa diarahkan menggunakan Bandara Kertajati untuk penerbangan umroh.
Sumber: Republika