Aktivis Sentil Prabowo-Gibran: Presiden Promo MBG, Wapres Ngomongin AI Terus!

WARTADEMOKRASI.COM – Komika Sammy Notaslimboy ikut memberikan pandangannya terkait pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka.

Sammy menganggap pemerintah saat ini terlalu sering menggembar-gemborkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta isu kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Ia juga menyinggung narasi yang menurutnya kerap disampaikan pemerintah terkait pihak asing yang dianggap berada di balik berbagai persoalan.

“Presidennya nyalahin antek asing dan promo MBG terus,” ujar Sammy dikutip melalui cuitannya di X (6/3/2026).

Tidak hanya itu, ia juga menyinggung pernyataan Wakil Presiden Gibran yang dinilainya sering menyinggung soal perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan.

“Wapresnya ngomongin AI terus,” sesalnya.

Singgung soal Pajak

Tidak berhenti di situ, Sammy menaruh perhatiannya pada pernyataan yang menyebut kontribusi pajak masyarakat relatif kecil sehingga dinilai tidak perlu terlalu banyak mengkritik pemerintah.

“Berhubung katanya kontribusi pajak kita kecil, nggak usah banyak protes,” Sammy menuturkan.

“Kalau emang kecil, bebasin aja dari pajak. Lo mau bacot soal MBG dan AI bebas deh,” tandasnya.

Sebelumnya, Pegiat media sosial, Yusuf Dumdum, merespons pernyataan dua anak buah Presiden Prabowo Subianto yang dianggap tidak sejalan terkait penggunaan anggaran dalam program MBG.

Sorotan muncul setelah Ketua Komisi III DPR RI dari Fraksi Gerindra, Habiburokhman, menyebut bahwa program MBG menggunakan anggaran pendidikan karena penerima manfaatnya merupakan para siswa.

Namun, Yusuf mempertanyakan pernyataan tersebut karena sebelumnya Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan bahwa program MBG tidak menggunakan anggaran pendidikan.

“Habiburokhman Gerindra akhirnya mengakui bahwa MBG menggunakan anggaran pendidikan karena alasannya penerimanya itu adalah siswa,” ujar Yusuf, Jumat (6/3/2026).

Pertanyakan Pernyataan Teddy

Ia kemudian menyinggung pernyataan Sekretaris Kabinet Teddy yang menurutnya berbeda dengan pengakuan Habiburokhman.

“Nah terus gimana dengan pernyataan Seskap Teddy? Katanya MBG itu kan tidak menggunakan anggaran pendidikan,” sebutnya.

Dikatakan Yusuf, pemerintah memang menyampaikan bahwa anggaran pendidikan mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

“Bahkan anggaran pendidikan itu katanya terus ditambah,” ucapnya.

Singgung Besaran Anggaran Pendidikan

Yusuf menjelaskan bahwa anggaran pendidikan memang mengalami kenaikan dari Rp665 triliun pada tahun 2024 menjadi Rp769 triliun pada tahun 2026.

“Ya memang benar sih anggaran pendidikan itu terus ditambah dari yang semula Rp665 triliun di 2024 menjadi Rp769 triliun di 2026,” imbuhnya.

Ia menyebut kenaikan tersebut sekitar Rp104 triliun. Namun demikian, Yusuf menilai program MBG justru menyedot anggaran pendidikan dalam jumlah besar.

“Tapi yang jelas ya MBG itu kan menyedot anggaran pendidikan sebesar Rp223 triliun. Itu ada datanya kok,” tukasnya.

Nasib Guru Honorer

Yusuf kemudian mempertanyakan sumber anggaran lainnya jika program MBG tidak memangkas anggaran pendidikan.

“Terus yang 123 triliunnya itu dari mana kalau bukan memangkas anggaran pendidikan?,” timpalnya.

Ia juga menyinggung kondisi guru honorer yang disebut mengalami pemotongan gaji.

“Ya sekarang kalau memang tidak memangkas atau memotong anggaran pendidikan ya, terus mengapa ada guru honorer yang gajinya itu dipangkas?,” imbuhnya.

Kata Yusuf, ada kasus guru honorer di Nusa Tenggara Timur yang mengalami pemotongan gaji cukup drastis.

“Bayangkan saja ya seorang guru honorer di NTT gajinya itu dipotong alias dipangkas dari yang semula 600 ribu rupiah per bulan menjadi 223 ribu rupiah per bulan,” sesalnya.

Ia menyebut bahkan gaji tersebut tidak selalu diterima setiap bulan.

“Itu pun kalau ada dana pos. Nah kalau tidak ada dana pos ya maka mereka tidak akan menerima gaji,” jelasnya.

Pengabdian Guru

Yusuf juga menyinggung lamanya pengabdian guru honorer tersebut.

“Bayangkan saja separah itu loh. Padahal ya guru honorer ini sudah mengabdi selama 23 tahun lamanya,” katanya.

Karena itu, Yusuf mempertanyakan kebijakan negara terhadap para tenaga pendidik honorer.

“Jadi kurang kejam apalagi negara memperlakukan guru honorer di negeri ini,” kuncinya.

Sumber: Fajar

Kamu mungkin suka