Surat Terbuka Presiden Iran Sentil ‘Akal Sehat’ Rakyat Amerika: Kalian Dikorbankan Demi Kepentingan Israel!

WARTADEMOKRASI.COM – Di tengah dentuman rudal dan eskalasi militer yang kian memanas, Presiden Iran Masoud Pezeshkian melancarkan ‘perang narasi’ yang tak biasa.

Alih-alih merespons ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan retorika militer, Pezeshkian merilis surat terbuka yang ditujukan langsung untuk menyentil akal sehat rakyat Amerika.

Melalui surat yang disiarkan oleh stasiun televisi negara PressTV dan akun X resminya pada Rabu (1/4/2026), Pezeshkian menggugat klaim ‘America First’ yang selama ini didengungkan oleh pemerintahan Trump.

Ia mengajak publik AS untuk mempertanyakan: siapa yang sebenarnya diuntungkan dari peperangan berdarah ini?

“Kepentingan rakyat Amerika yang mana yang sebenarnya dilayani oleh perang ini?” tulis Pezeshkian lugas.

Ia lantas mengkritik keras kebrutalan militer yang merusak wajah kemanusiaan sekaligus mencoreng reputasi AS di mata global.

“Apakah pembantaian anak-anak yang tidak bersalah, penghancuran fasilitas farmasi perawatan kanker, atau membanggakan pengeboman sebuah negara hingga ‘kembali ke zaman batu’ memiliki tujuan lain selain merusak reputasi global AS?” lanjutnya.

Kendati menegaskan hak mutlak Iran untuk membela diri, Pezeshkian memastikan bahwa Teheran sama sekali tidak menaruh bibit permusuhan terhadap rakyat sipil Amerika.

AS Turun Kasta Jadi Proksi Israel

Lebih jauh, surat tersebut membongkar tabir manipulasi politik yang ditudingkan Pezeshkian terhadap Tel Aviv.

Sang presiden melontarkan tuduhan serius bahwa pemerintahan Trump telah disetir dan dimanipulasi oleh Israel untuk melancarkan agresi pada 28 Februari lalu.

“Bukankah Amerika memasuki agresi ini sebagai proksi bagi Israel, yang dipengaruhi dan dimanipulasi oleh rezim tersebut?” tegas Pezeshkian.

Ia menilai, Israel sengaja memproduksi narasi fiktif soal ‘ancaman Iran’ semata-mata untuk mengalihkan pandangan dunia dari kejahatan kemanusiaan mereka di Palestina.

Tragisnya, kata Pezeshkian, ambisi Israel tersebut kini harus dibayar mahal menggunakan uang pajak rakyat Amerika dan mengorbankan nyawa tentara Paman Sam.

Pezeshkian juga membantah keras tudingan bahwa negaranya adalah ancaman global.

Ia membeberkan fakta ironis bahwa Iran justru diserang sebanyak dua kali tepat ketika para diplomatnya sedang duduk di meja perundingan nuklir multilateral.

Serangan pertama, ungkapnya, dilancarkan Israel dengan sokongan AS pada perang 12 hari di bulan Juni 2025.

Serangan kedua terjadi pada akhir Februari 2026 yang secara sistematis menghancurkan infrastruktur energi dan sipil Iran.

“Ini bukan demonstrasi kekuatan; ini adalah tanda kebingungan strategis dan ketidakmampuan untuk mencapai solusi berkelanjutan,” kecam Pezeshkian, seraya menyebut serangan ke fasilitas sipil sebagai bentuk kejahatan perang.

Perang Narasi di Tengah Ultimatum Trump

Manuver diplomasi publik dari Pezeshkian ini meluncur hanya berselang beberapa jam setelah Donald Trump menebar ancaman baru di media sosial.

Trump mengultimatum akan terus menggempur Iran hingga musnah atau kembali ke ‘Zaman Batu’ apabila Selat Hormuz tidak segera dibuka.

Trump juga sempat menyebarkan klaim sepihak bahwa Teheran telah mengemis gencatan senjata—sebuah pernyataan yang langsung dibantah mentah-mentah oleh para pejabat tinggi Iran.

Mengamati manuver kedua kepala negara ini, koresponden Al Jazeera di Teheran, Ali Hashem, menyimpulkan bahwa saat ini dunia tengah menyaksikan perang urat saraf yang sengit.

“Sementara pemerintahan Amerika mencoba memaksakan narasi kemenangan (militer), otoritas Iran berusaha mendorong narasi bahwa mereka adalah pihak yang sedang berada di bawah serangan yang tak bermoral,” analisis Hashem.

Sumber: Inilah

Kamu mungkin suka