WARTADEMOKRASI.COM – Raksasa perbankan Wall Street, JPMorgan, memproyeksikan arus dana ke pasar aset kripto akan berlanjut, bahkan berpotensi meningkat lebih cepat pada 2026.
Prediksi ini muncul setelah industri kripto mencatat tahun rekor pada 2025, dengan total arus modal mencapai hampir USD 130 miliar.
Dalam riset terbarunya, dikutip dari COinmarketcap, Kamis (15/1/2026), analis JPMorgan menyebut lonjakan tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap kripto sebagai kelas aset yang sah, terutama di kalangan investor institusi.
Angka tersebut juga menunjukkan kenaikan sekitar sepertiga dibandingkan tahun 2024, sekaligus menjadi rekor tahunan baru bagi pasar kripto global.
Prediksi ini disampaikan oleh Nikolaos Panigirtzoglou, Managing Director of Global Market Strategy JPMorgan, bersama timnya.
Mereka menilai lonjakan aktivitas investasi institusi pada tahun-tahun mendatang akan semakin kuat, seiring hadirnya regulasi kripto yang lebih jelas, seperti Clarity Act di Amerika Serikat.
Menurut Panigirtzoglou, kejelasan regulasi ini menjadi faktor penting yang mendorong institusi keuangan besar untuk lebih percaya diri masuk ke ekosistem kripto.
Dengan regulasi yang mulai terbentuk, JPMorgan menilai semakin banyak institusi akan menunjukkan minat lebih besar dalam memanfaatkan aset kripto.
Minat tersebut tidak hanya terbatas pada investasi langsung, tetapi juga mencakup berbagai aktivitas lain seperti pendanaan modal ventura kripto, merger dan akuisisi, hingga penawaran saham perdana (IPO).
Aktivitas ini diperkirakan akan melibatkan sektor-sektor penting, mulai dari penerbit stablecoin, perusahaan pembayaran, bursa kripto, penyedia dompet digital, infrastruktur blockchain, hingga layanan kustodian aset digital.
Untuk menghitung total arus modal ke pasar kripto, analis JPMorgan mempertimbangkan sejumlah indikator utama.
Di antaranya adalah arus dana dari exchange-traded funds (ETF), tren pada kontrak berjangka CME, pendanaan startup kripto, serta pembelian Digital Asset Treasuries (DAT).
Terkait lonjakan pada 2025, analis menilai peningkatan tersebut terutama didorong oleh arus masuk ke ETF Bitcoin dan Ether.
Namun, mereka mencatat bahwa dana tersebut kemungkinan besar berasal dari investor ritel, bukan institusi murni.
Selain itu, sejumlah perusahaan DAT juga melakukan pembelian Bitcoin dalam jumlah besar di luar strategi utama mereka.
Di sisi lain, JPMorgan mencatat adanya penurunan tajam dalam aktivitas pembelian kontrak berjangka Bitcoin dan Ethereum di CME sepanjang 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada periode ini, investor institusi dan hedge fund justru mengurangi keterlibatan mereka di pasar derivatif kripto.
Meski demikian, lebih dari 50 persen arus dana ke aset digital pada 2025, atau sekitar USD 68 miliar, tercatat berasal dari Digital Asset Trusts.
Salah satu kontributor terbesar adalah Strategy Inc., yang menyumbang sekitar USD 23 miliar—angka yang hampir setara dengan USD 22 miliar pembelian Bitcoin pada 2024.
Selain Strategy Inc., DAT lainnya membeli aset digital senilai sekitar USD 45 miliar sepanjang 2025. Angka ini melonjak tajam dibandingkan hanya USD 8 miliar pada tahun sebelumnya.
Namun, pembelian besar tersebut sebagian besar dilakukan pada awal tahun, sebelum aktivitas melambat sejak Oktober.
Sejumlah pemain besar seperti Strategy dan BitMine turut mengurangi pembelian pada periode tersebut.
Sementara itu, pendanaan modal ventura kripto juga menyumbang arus dana, meski pertumbuhannya dinilai masih lambat. Analis menilai kontribusinya jauh di bawah puncak pada 2021 dan 2022.
Meski total nilai pendanaan sedikit meningkat dibandingkan 2024, jumlah kesepakatan justru turun drastis karena investor lebih fokus pada pendanaan tahap lanjut. Pendanaan tahap awal pun tercatat merosot tajam sepanjang tahun.
Sejumlah analis mengaku terkejut dengan lambatnya pertumbuhan modal ventura kripto, mengingat regulasi di AS kini dinilai semakin mendukung aktivitas industri aset digital.
Sumber: Liputan6