WARTADEMOKRASI.COM – Data dari grup hotel, firma perjalanan, dan peramal tren terkemuka dunia menunjukkan bahwa 2026 akan jadi tahun pelarian yang tenang, rencana perjalanan yang dibentuk algoritma, retret yang sangat personal, dan kembalinya perjalanan yang lebih lambat dan lebih disengaja.
Melansir BBC, Jumat, 5 Desember 2025, para ahli analisis angka, ahli perilaku, dan perusahaan perjalanan telah mengumpulkan data selama beberapa bulan terakhir untuk menilai ke mana arah industri perjalanan akan bergulir tahun ini.
Mulai dari coolcations, sebuah tren yang muncul beberapa tahun lalu, hingga flashpacking, istilah yang digunakan untuk menyebut backpacking kelas atas, tren pariwisata tahunan cenderung muncul dengan kata portmanteau yang janggal.
Itu hampir selalu mencerminkan cara kita hidup atau cara kita ingin hidup. Dari sekian banyak, berikut tren perjalanan teratas yang akan muncul pada 2026:
Tahun 2026 diprediksi akan didominasi liburan yang mengutamakan ketenangan. Gerakan yang juga dikenal sebagai Hushpitality ini berpusat pada kenyamanan, keheningan, dan upaya melepaskan diri dari tekanan kehidupan modern yang kian bertumpuk.
Hector Hughes, salah satu pendiri Unplugged, sebuah penyedia kabin detoks digital di Inggris, telah mengamati perkembangan tren ini secara langsung. “Ketika kami pertama kali memulai Unplugged pada 2020, detoks digital dan kehidupan analog hampir tidak pernah terdengar,” ungkapnya.
“Sekarang, lebih dari setengah tamu kami menyebut lkelelahan akibat layar sebagai motivasi utama mereka untuk memesan (kabin detoks),” ia menambahkan.
Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dipastikan akan semakin terintegrasi di dunia perjalanan pada 2026. Berdasarkan riset dari Amadeus, jumlah wisatawan yang menggunakan AI untuk perencanaan dan pemesanan perjalanan terus meningkat.
Pemain besar di industri ini, seperti Expedia dan Booking.com, telah mengintegrasikan alat seperti ChatGPT untuk merencanakan liburan Anda. Ditambah dengan adanya penerjemahan real time dan proses check-in digital, teknologi secara perlahan menghapus beban administrasi yang selama ini jadi bagian dari perjalanan.
Namun, para ahli keberlanjutan memperingatkan bahwa rekomendasi algoritma dapat memicu overtourism dengan mengarahkan wisatawan ke destinasi yang sama, serta meningkatkan risiko penipuan perjalanan. Jasmine Bina, CEO Concept Bureau, menyoroti bagaimana AI mengubah cara kita memahami kebutuhan perjalanan.
“Anda mungkin ingin bepergian ke resor untuk pulih dari kelelahan, tapi alih-alih sekadar mencari resor di TikTok, Anda akan menggunakan ChatGPT untuk terlebih dahulu mengetahui jenis kelelahan spesifik apa yang Anda miliki, ritual atau input sensorik apa yang Anda respons, dan destinasi mana yang paling mencerminkan kondisi internal Anda,” jelasnya.
Meningkatnya kelelahan dalam mengambil keputusan memicu tren baru di mana wisatawan lebih memilih menyerahkan kendali sepenuhnya pada pihak lain. Ada peningkatan yang jelas dalam pengalaman perjalanan di mana tamu tidak perlu membuat keputusan apapun.
Di Kepulauan Faroe, pilihan ditiadakan demi keberlanjutan melalui inisiatif mobil yang dapat menavigasi sendiri. Sementara itu, di belahan dunia lain, konsep ini digunakan untuk menciptakan liburan yang benar-benar santai dan penuh kejutan yang telah dikurasi.
Misalnya, Winemaker’s House & Spa Suites milik Susana Balboa di Mendoza, Argentina, meluncurkan opsi perjalanan misterius yang dirancang untuk menghilangkan stres saat pemesanan. Di industri pelayaran, kapal pesiar misterius, di mana penumpang naik tanpa mengetahui rencana perjalanannya, juga jadi semakin populer.
Laporan Tren 2026 dari Hilton menunjukkan bahwa perjalanan darat alias road trip akan menjadi pilihan utama pada 2026. Tagar #RoadTrip telah mengumpulkan lebih dari 5,9 juta unggahan secara global, menandakan bahwa wisatawan kembali menemukan daya tarik jalan terbuka.
Meski spesialis liburan mengemudi seperti Hunter Moss membayangkan kembali perjalanan darat klasik sebagai pengalaman mewah dengan memadukan santapan berbintang Michelin dan perhentian gaya hidup yang dikurasi, banyak wisatawan memilih mengemudi karena alasan biaya.
Perbedaan budaya berkendara di setiap wilayah bisa saja memengaruhi tren ini. Perbedaan persepsi tersebut mempengaruhi bagaimana masyarakat di berbagai wilayah memandang perjalanan darat, baik sebagai sebuah kemewahan pengalaman maupun sebagai solusi praktis yang ekonomis.
Era memesan perjalanan yang sama dengan orang lain telah berlalu. Industri perjalanan kini bergerak menuju hiper-individualitas dalam skala besar.
Berbagai tur spesialis telah muncul untuk melayani tahap dan situasi tertentu, mulai dari retret perceraian, kesedihan, dan menopause, hingga perjalanan minat khusus, seperti liburan olahraga raket dan tur bagi penggemar serangga.
Pergeseran ini menunjukkan bahwa pendekatan satu perjalanan untuk semua tidak lagi relevan bagi wisatawan modern yang mencari pengalaman yang lebih mendalam dan spesifik. Jasmine Bina dari Concept Bureau menjelaskan bahwa pergeseran ini mencerminkan cara kita mengalami waktu saat ini.
“Hal-hal, seperti tur perceraian dan kesedihan, serta retret menopause adalah tentang menciptakan kantong waktu sakral yang berpusat pada emosi yang intens. Ini adalah ambang batas baru kita. Orang ingin melewatinya dan muncul dengan perubahan di sisi lain.”
Semakin banyak wisatawan menjauhi lokasi-lokasi populer yang sering dipadati pengunjung. Nick Pulley, pendiri operator tur Selective Asia, menyatakan, “Semakin banyak pelancong kami, terutama brigade anti-Instagram, berpaling dari titik populer yang penuh sesak yang jarang sesuai citra online mereka yang terlalu banyak filter dan rapi.”
Akibatnya, minat terhadap destinasi terpencil meningkat, seperti Toledo di Spanyol, Brandenburg di Jerman, serta Irak bagi mereka yang lebih berjiwa petualang. Riset Hilton juga mengidentifikasi peningkatan perjalanan yang dipimpin rasa ingin tahu untuk mencari pertumbuhan pribadi.
Milena Nikolova menekankan bahwa pengalaman kini berfungsi sebagai bentuk mata uang sosial. “Hari ini, dengan media sosial, pengalaman jauh lebih nyata dan dapat berfungsi sebagai bukti status untuk waktu yang lama, dengan audiens yang lebih besar,” ujarnya.
Sebagian didorong fenomena #BookTok, perjalanan berbasis sastra diprediksi akan terus tumbuh pada 2026, bersamaan dengan tren perjalanan yang terinspirasi TV dan film.
Hotel di seluruh dunia, bahkan di destinasi kehidupan malam, seperti Ibiza dan Madrid, mulai menyediakan fasilitas seperti buku langka, retret membaca, serta perpustakaan di tepi kolam renang.
Beberapa destinasi yang diprediksi akan populer pada tahun ini adalah Cornwall (lokasi syuting seri TV Harry Potter baru), Yorkshire Moors (latar film Wuthering Heights), dan Yunani (adaptasi The Odyssey karya Christopher Nolan).
Bina melihat tren ini sebagai bentuk pelarian modern. “Di masa perubahan cepat, kita melarikan diri ke fiksi untuk mengeksplorasi ketakutan dan keinginan kita,” katanya.
Ia membandingkan ini dengan lonjakan literatur fantasi di era perang tahun 1930-an dan fiksi ilmiah di tahun 1960-an.