WARTADEMOKRASI.COM – Memasuki 2026, banyak orang menetapkan perencanaan keuangan demi kondisi finansial yang lebih sehat. Namun di era media sosial, hal itu kerap terasa lebih sulit.
Linimasa yang dipenuhi potret liburan mewah, belanja mahal, dan gaya hidup mapan sering kali membuat seseorang merasa tertinggal, meski realitas keuangan di balik layar belum tentu seindah yang terlihat.
Konsultan keuangan asal Vancouver kanada Parween Mander menilai, gambaran keuangan di media sosial sering kali tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
“Kita tidak pernah melihat masa-masa sulit mereka. Sulit untuk tidak membandingkan hidup kita dengan pencapaian orang lain, dan di situlah rasa malu mulai muncul,” ujarnya dikutip dari Global News, Kamis (1/1/2026).
Mander, yang juga merupakan konselor keuangan terakreditasi, bersama sejumlah pakar keuangan pribadi sepakat bahwa keberhasilan resolusi keuangan sangat ditentukan oleh cara seseorang menyusun, menjalankan, dan memantau tujuannya sepanjang tahun.
Berikut lima tips agar perencanaan keuangan 2026 tidak berhenti di tengah jalan:
Sebelum menetapkan target baru, Mander menyarankan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi keuangan sepanjang 2025. Mulai dari pendapatan, tabungan, investasi, utang, hingga pengeluaran utama.
Artinya, Anda perlu meninjau seluruh rekening bank, instrumen investasi, tagihan rutin, serta kewajiban finansial lainnya.
“Penting untuk memahami apa yang berjalan baik dan apa yang tidak, agar kita bisa menyusun perbaikan ke depan,” kata Mander.
Langkah ini menjadi fondasi penting sebelum menentukan strategi keuangan di tahun baru.
Berbeda dengan pendekatan konvensional yang fokus melunasi utang secepat mungkin, Mander justru menekankan pentingnya membangun tabungan terlebih dahulu.
Dengan banyaknya rumah tangga yang hidup dari gaji ke gaji, risiko pengeluaran mendadak seperti kendaraan rusak, kebutuhan keluarga, atau biaya kesehatan menjadi tantangan serius.“Membangun dana darurat adalah kunci,” ujarnya.
Idealnya, dana darurat setara dengan tiga bulan pengeluaran rutin. Namun bagi pekerja lepas atau mereka yang berada di sektor rawan PHK, enam bulan pengeluaran dinilai lebih aman. Mander mengingatkan, tujuan ini tidak harus tercapai instan dan wajar jika membutuhkan waktu lebih dari setahun.
Sambil menabung, pengelolaan utang tetap perlu dilakukan. Tekanan biaya hidup membuat banyak rumah tangga menambah utang dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Mander, ada dua strategi umum untuk mengurangi utang. Pertama, melunasi utang dengan bunga tertinggi lebih dulu.
Kedua, menggunakan metode “efek bola salju”, yakni melunasi utang dengan saldo terkecil untuk mendapatkan dorongan motivasi.
Jika memiliki beberapa jenis utang, Mander menyarankan kombinasi keduanya.
“Mulailah dari utang dengan saldo terendah untuk membangun momentum, lalu beralih ke utang berbunga tinggi,” katanya.
Pakar keuangan pribadi Melissa Leong menilai perencanaan sering kali gagal karena terlalu kaku. Menurutnya, pendekatan yang lebih efektif adalah membangun kebiasaan mengelola uang.
“Resolusi saya biasanya mulai goyah menjelang Februari. Aturan keuangan yang terlalu kaku justru menurunkan motivasi,” ujarnya.
Leong, penulis buku Happy Go Money, menyarankan fokus pada praktik nyata yang bisa langsung diterapkan, seperti otomatisasi tabungan dan pembayaran tagihan. Ia juga menganjurkan mengganti resolusi dengan nilai keuangan.
Sebagai contoh, alih-alih bertekad “mengurangi belanja impulsif”, seseorang bisa menanamkan identitas sebagai “pembelanja yang sadar”, lalu menetapkan pendukung seperti menunda pembelian tidak penting di atas nominal tertentu selama 24 jam.
Leong menekankan pentingnya prinsip “kemajuan dibanding kesempurnaan”. Pilih satu kebiasaan keuangan kecil, lalu lacak konsistensinya, bukan semata-mata jumlah uangnya.
Untuk menjaga akuntabilitas, ia menyarankan melibatkan orang lain, misalnya melalui grup kecil dengan teman terpercaya. Namun, tetap beri ruang untuk kesalahan.
“Berilah diri sendiri kelonggaran. Kita tidak sedang berlomba, tapi membangun kebiasaan,” ujarnya.
Tips lain yang dinilai efektif adalah memberi nama khusus pada rekening tabungan sesuai tujuan, seperti liburan, dana darurat, atau masa depan.Menurut Leong, tujuan akhir dari seluruh proses ini adalah pemberdayaan finansial.
“Mengelola keuangan bukan seperti menyalakan saklar lampu pada 1 Januari. Ini lebih seperti membangun otot sebuah perjalanan yang membutuhkan waktu,” tutupnya.